Kutacane – Ada harapan baru di SMA Negeri Perisai Kutacane. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah baru, Zaini Bainullah, S.Pd., M.Si., sekolah tersebut mulai membidik perubahan besar melalui konsep dan desain strategis pengembangan sekolah, dengan target mengembalikan kejayaan sebagai salah satu sekolah berprestasi di Aceh, khususnya Aceh Tenggara.
Zaini dipercaya memimpin SMA Negeri Perisai sejak 22 Juli 2026. Sebelumnya, ia memiliki pengalaman memimpin sejumlah sekolah, di antaranya SMKN Darul Hasanah, SMKN 4 Kutacane dan terakhir SMKN 2 Kutacane.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Zaini dalam menyusun berbagai terobosan di SMA Negeri Perisai. Saat memimpin SMKN 2 Kutacane, sekolah tersebut berhasil masuk dalam jajaran sekolah SMK BLUD dengan pendapatan BLUD terbesar di Provinsi Aceh, yakni berada di peringkat keenam.
Kini, pengalaman dan konsep pengembangan tersebut ingin diterapkan di SMA Negeri Perisai melalui sejumlah program strategis. Mulai dari penguatan kapabilitas dan integritas sekolah, peningkatan kompetensi guru, penjaringan siswa berprestasi, kelas unggulan dan boarding, penguatan bimbingan dan konseling (BK), pemetaan bakat siswa hingga pembenahan sarana dan prasarana.
Hal tersebut disampaikan Zaini kepada media Senin (10/8/2026), di ruang kerjanya.
Zaini mengatakan, langkah awal yang akan dilakukan adalah membangun sistem perencanaan yang lebih terarah melalui pembentukan tim penguatan kapabilitas dan integritas sekolah serta mengoptimalkan kembali jalur prestasi dalam penerimaan peserta didik baru.
“Program ke depan pertama kita akan membentuk tim perencanaan penguatan kapabilitas dan integritas sekolah, kemudian optimalisasi jalur prestasi,” ujar Zaini.
Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, sekolah akan melakukan supervisi dan visitasi kelas, baik terhadap proses pembelajaran maupun mata pelajaran. Hasil supervisi akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat kelebihan dan kekurangan guru sekaligus menentukan kebutuhan peningkatan kompetensi.
Penguatan tersebut selanjutnya akan dilakukan melalui in-house training (IHT) dan workshop bagi tenaga pendidik. Sekolah juga berencana menggandeng konsultan pendidikan dari Banda Aceh sebagai bagian dari pendampingan pengembangan mutu pendidikan.
“Langkah pertama kita melakukan supervisi dan visitasi kelas melalui supervisi kelas maupun mata pelajaran. Dari sana kita melihat kelebihan dan kekurangan guru dalam proses pembelajaran,” jelasnya.
Salah satu fokus utama Zaini adalah menghidupkan kembali budaya prestasi di SMA Negeri Perisai.
Sekolah akan melakukan penjaringan siswa berprestasi sejak jenjang SMP melalui sosialisasi ke sejumlah sekolah. Jalur prestasi tersebut akan menjadi salah satu pintu masuk bagi siswa yang memiliki kemampuan dan prestasi untuk bergabung di SMA Negeri Perisai.
“Melalui jalur prestasi, siswa-siswa SMP yang berprestasi akan kita prioritaskan. Program seperti ini sebenarnya pernah dilakukan, tetapi sempat terputus. Kita akan hidupkan kembali,” ujarnya.
Selain jalur prestasi, sekolah juga akan mengembangkan kelas unggulan serta program boarding dan sekolah unggul sebagai bagian dari strategi pengembangan peserta didik.
Zaini menyebut SMA Negeri Perisai termasuk dalam program sekolah unggul di Aceh. Sementara bagi siswa yatim yang mengikuti program boarding, berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah terdapat dukungan pembiayaan sekitar Rp2,4 juta per siswa per tahun.
Tidak hanya mengandalkan prestasi akademik, potensi siswa juga akan dipetakan sejak awal. Untuk siswa kelas X, sekolah berencana melaksanakan tes bakat guna mengetahui kemampuan, potensi dan minat masing-masing siswa.
Pengembangan mutu sekolah juga diarahkan pada peningkatan kualitas tenaga pendidik dan layanan bimbingan konseling.
Selain IHT dan workshop, sekolah berencana menghadirkan Dr. Hendri Putra, S.Psi., M.Pd., untuk membantu supervisi sekaligus memperkuat kapasitas guru BK.
“Kita akan menghadirkan Pak Dr. Hendri Putra, S.Psi., M.Pd. untuk membantu melakukan supervisi dan penguatan guru BK,” katanya.
Menurut Zaini, pemetaan kemampuan dan minat siswa penting dilakukan agar sekolah dapat memberikan pendampingan yang sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik.
Selain pembenahan dari sisi akademik dan sumber daya manusia, perubahan juga mulai diarahkan pada lingkungan fisik sekolah.
Pada Senin pagi, aktivitas sekolah telah berjalan sejak sekitar pukul 07.30 WIB. Pihak sekolah juga mulai melakukan pembenahan lingkungan dengan mendatangkan alat berat dan mobil truk untuk membersihkan serta mengangkut kayu-kayu yang dinilai mengganggu bagian atap sekolah.
“Pagi tadi siswa dan guru sudah hadir di sekolah. Kita mulai melakukan pembenahan, termasuk memasukkan beko dan mobil truk untuk membersihkan kayu-kayu yang sudah mengganggu atap sekolah,” ungkap Zaini.
Untuk pengembangan sarana dan prasarana ke depan, sekolah akan mengoptimalkan berbagai sumber program, termasuk rehabilitasi, pokok pikiran (pokir) serta program Dinas Pendidikan Aceh melalui bidang sarana dan prasarana.
Zaini menegaskan, seluruh program tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan guru, siswa, orang tua dan seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap perubahan yang dilakukan tidak hanya terlihat dari sisi fisik sekolah, tetapi juga mampu membangun kembali semangat belajar, meningkatkan kualitas pembelajaran dan melahirkan budaya prestasi.
“Harapan kita sekolah ini kembali seperti masa jayanya dulu dengan program-program yang kita sampaikan. Salah satunya melalui jalur prestasi, dengan memprioritaskan siswa-siswa SMP yang memiliki prestasi,” ujarnya.
Dengan pengalaman memimpin sejumlah sekolah, capaian yang pernah diraih di SMKN 2 Kutacane serta desain strategis yang kini disiapkan, Zaini optimistis SMA Negeri Perisai dapat kembali menjadi sekolah berprestasi dan diperhitungkan di Aceh, khususnya Aceh Tenggara.
“Kita ingin meningkatkan kembali kualitas dan mutu SMA Negeri Perisai,” pungkas Zaini. (Akbar)






























